An emotionally invested enthusiast of pop culture in the guise of a Copywriter. Apathetic by design. Aesthetically offensive and eloquently candid. A sentimental heathen.


percy_jackson_sea_of_monsters_ver2

 

Kelangsungan hidup para demigod di Camp Half-blood terancam ketika pohon Thalia yang melindungi perkemahan mereka diracun. Maka, berangkatlah Clarisse La Rue (Leven Rambin) untuk mencari bulu domba emas yang dapat menyembuhkan manusia dan segala makhluk lainnya. Namun tentu saja, Percy Jackson (Logan Lerman) tidak bisa tinggal diam dan membiarkan Clarisse melakukan misi tersebut sendirian.

 

sea of monsters 1

 

Sejujurnya, saya gak menyangka bahwa sekuel dari Percy Jackson and the Lightning Thief ini benar-benar akan terwujud. Begitu saya mendengar kepastian mengenai sekuelnya (yang kebetulan terjadi setelah Logan Lerman menjadi sorotan akibat perannya di The Perks of Being A Wallflower), well, tentunya saya senang. Percy Jackson and the Olympians adalah salah satu seri novel kesukaan saya, dan saya lega karena nasibnya tidak akan berakhir sama seperti Eragon. Tapi saya juga dibayangi ketakutan bahwa film kedua ini akan gagal, atau semakin menyimpang dari cerita aslinya.

*menghela nafas dalam*

Sulit memang, bagi saya untuk bersikap netral dalam menilai film ini, karena saya sudah membaca bukunya, dan juga cinta setengah mati dengan serial yang ditulis oleh Rick Riordan tersebut. Tapi untuk saat ini, saya akan berusaha untuk tidak membandingkan film ini dengan bukunya.

sea of monsters 2

Entah ini efek dari The Perks of Being a Wallflower atau bukan, namun harus diakui bahwa memang Logan Lerman lah salah satu jualan utama film ini. Dan karakter Percy Jackson lah yang kena imbasnya. Seolah tidak cukup bahwa namanya terpampang besar-besar sebagai judul film, dan isi posternya juga cuma muka dia, Thor Freduenthal dan Marc Guggenheim seolah tidak kenal lelah untuk mengingatkan kita bahwa Percy lah tokoh utama film ini.

Hasilnya? Sepanjang 106 menit kita harus melihat misi pencarian yang, sejujurnya, lebih terlihat seperti usaha Percy untuk membuktikan bahwa dirinya memang punya kemampuan, dan bukan hanya kebetulan beruntung saat mengalahkan Luke Castellan dulu. Annabeth, Tyson, Grover, dan juga Clarisse hanyalah figuran yang ada untuk menemani Percy dan menuh-menuhin layar. Karena toh biarpun sudah muncul di dua film, baik Alexandra Daddario maupun Brandon T. Jackson masih belum memberikan karakter yang kuat bagi Annabeth dan Grover. Jake Abel juga kurang bisa mengeluarkan aura villain, padahal ini udah kedua kalinya dia jadi penjahat dan Luke pun gagal menjadi lawan yang menakutkan bagi Percy.

Di sisi lain, dipilihnya Anthony Head sebagai pengganti Pierce Brosnan untuk peran Chiron merupakan pilihan yang tepat karena Chiron di sini terlihat sangat mengayomi, meskipun porsi munculnya sedikit. Leven Rambin dan Douglas Smith juga tampil meyakinkan sebagai Clarrise dan Tyson. Clarisse langsung terlihat sebagai cocky asshole, sementara Tyson sangatlah stupidly adorable. Stanley Tucci lagi-lagi menjadi scene stealer sebagai Mr.D alias Dionysus. Hermes-nya Nathan Fillion juga memorable.

sea of monsters 3

Tapi toh pada akhirnya, Percy Jackson tetap berakhir sebagai film yang biasa-biasa saja karena pilihan awal Thor dan Marc untuk menjadikan Sea of Monsters sebagai filmnya “Percy Jackson”. Segala fokus yang dituangkan pada Percy Jackson tidak memberikan kesempatan bagi karakter-karakter lain untuk berkembang atau bahkan mendapatkan sorotan yang pantas. They don’t have a proper background story, and nor do they have something that they strive for. Iya, kita melihat sekilas masa lalu Annabeth dan paham kenapa dia benci sama Cyclops. Dan kita mendengar pengalaman buruk Tyson dengan anak-anak pramuka. Tapi itu masih belum cukup untuk membuat saya bisa merasa simpati, apalagi bisa relate dengan karakter mereka. Coba lihat Harry Potter. Biarpun jelas-jelas bahwa fokusnya adalah Harry, tapi kedelapan filmnya memberikan kesempatan bagi Ron dan Hermione untuk berkembang dan menjadi sosok yang terkadang malah lebih mengagumkan daripada Harry sendiri. Sementara di seri ini, hanya karakter Percy yang terlihat utuh. Itu pun jatuhnya dia jadi sosok yang agak self-centered dengan segala insecurity dan constant needs to prove his worth. Biarpun saya suka sama detail di awal, saat Percy memilih untuk membantu temannya daripada memenangkan perlombaan. Detail kecil yang penting mengenai sifat Percy – his loyalty to his friends.

Sebagai sebuah film, Sea of Monsters merupakan tontonan yang menghibur dan cukup seru. Tapi sebagai sebuah film adaptasi, well, mungkin lebih baik kita pura-pura lupa bahwa film ini merupakan interpretasi dari sebuah buku berjudul sama yang jauh lebih awesome. Karena yang ada bakal sakit hati ngeliat perubahan-perubahan yang dibuat dan dampaknya pada cerita. I mean, Harry Potter juga gak segitu pakemnya sama buku tapi masih memuaskan. Kenapa Percy Jackson gak bisa melakukan hal yang sama. Kapan sih para produser dan writer bakal belajar dari pengalaman bahwa film adaptasi yang gak faithful sama bukunya itu gak akan berhasil dengan baik? Kapan?

So, yeah. Sea of Monsters gak fail kok. It’s not exceptionally good, not fun, but not boring either. Just okay. And on a side note, mungkin slogannya bisa diganti dari “In Demigod We Trust” jadi “In Percy Jackson We Trust”. Sekedar biar sesuai sama isi film aja sih.

 

 

 

Director: Thor Freudenthal. Writer: Marc Guggenheim. Released on: 21 August 2013. Casts: Logan Lerman, Alexandra Daddario, Douglas Smith, Leven Rambin, Brandon T. Jackson, Jake Abel, Anthony Head, Stanley Tucci.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *