An emotionally invested enthusiast of pop culture in the guise of a Copywriter. Apathetic by design. Aesthetically offensive and eloquently candid. A sentimental heathen.

 first-poster-the-wolverine-japan-setting

Bersetting setelah Last Stand, Logan (Hugh Jackman) yang terus-menerus dibayangi Jean menghabiskan hidupnya di gunung, berusaha hidup bersih dan meninggalkan nalurinya sebagai ‘pemburu’. Tapi semua berubah saat negara api menyerang Yukio (Rila Fukushima) menemukannya di bar dan memintanya datang ke Jepang. Yashida (Hal Yamanouchi) yang dulu pernah diselamatkan Logan, tengah sekarat dan ingin mengucapkan selamat tinggal. Nyatanya, apa yang harusnya hanya berupa kunjungan singkat berubah menjadi bencana ketika Logan terseret di tengah intrik keluarga Yashida.

 wolvie 1

To be very honest, saya bukan penggemar X-Men. Saya gak ngikutin trilogi X-Men sebelumnya, nonton X-Men Origin: Wolverine cuma ala kadarnya, dan nonton First Class pun baru beberapa minggu yang lalu via TV kantor. Nonton The Wolverine ini pun sebenernya gara-gara gak dapet tiket The Conjuring.

Tapi saya suka sama First Class (dan suka banget sama James McAvoy dan bromance-nya ErikXavier) sehingga mau tidak mau, saya punya harapan lah soal Wolverine. Seenggaknya, saya pikir The Wolverine ini bakal jadi film blockbuster yang bisa bikin ketawa dan memanjakan dengan visualnya. Ala Pacific Rim gitu.

Sayang kenyataannya tak sejalan…

Entah kenapa, saya merasa sangat….datar sepanjang nonton film ini. Jangankan simpati atau relate sama karakternya. Yang ada saya cuma memutar mata waktu liat kelakuan mereka. Apalagi bagi saya karakter-karakter di film ini sangatlah tipikal, dengan permasalahan yang tipikal pula. Bahkan Yukio (yang entah kenapa bikin saya inget Chucky. Iya yang boneka tukang bunuh itu) dan Viper yang saya harapkan bisa membawa angin segar pun tersandung permasalahan dan pengembangan yang tipikal sehingga seolah “nyangkut” dan half-hearted. Makanya, bagi saya semua karakter di film ini ya cuma itu. Karakter doang. Fabricated and unreal, without any depth. Dam protes utama saya? Antagonisnya kurang keren bruh.

wolvie 5

Hal yang sama juga terjadi dari segi cerita. Twist demi twist yang perlahan menguak misteri serta konspirasi di film ini tidak bisa menimbulkan reaksi apapun dari saya. Jangankan ber “oohh” atau “aaahhh” ria dengan kagum. Yang ada saya cuma memberikan “hmm…” sebagai reaksi sepanjang film. Ada sih waktu di mana saya ketawa, tapi seinget saya itu lebih karena inside joke (eg: You should get yourself a doctor) atau justru karena keklisean atau ke-awkward-an adegan-adegannya (eg: lari nyebrang jalan dan ketabrak mobil, hujan yang berujung pada atmosfer unyu romantis, dua orang Jepang yang malah ngomong pake bahasa Inggris).

Ah entahlah, mungkin ini masalah selera, atau mungkin memang saya yang kurang niat nonton dan gak bisa relate karena emang gak kenal sama X-Men. Yang saya tahu, Wolverine terlalu hambar untuk saya. It didn’t leave a bad taste in my mouth, but it didn’t leave any impressions either.

 wolvie 3

Director: James Mangold. Writers: Mark Bomback, Scott Frank. Released on: 24 July 2013. Casts: Hugh Jackman, Tao Okamoto, Rila Fukushima, Hal Yamanouchi, Hiroyuki Sanada, Svetlana Khodchenkova

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *