An emotionally invested enthusiast of pop culture in the guise of a Copywriter. Apathetic by design. Aesthetically offensive and eloquently candid. A sentimental heathen.

Surga Yang Tak Dirindukan 2 ternyata menjadi film yang spesial. Karena film ini berhasil membuat saya, untuk pertama kalinya selama beberapa tahun terakhir (bahkan mungkin sepanjang sejarah situs ini), menulis sebuah ulasan yang sepenuhnya menggunakan Bahasa Indonesia. Ada beberapa alasan, tentu saja. Namun yang utama adalah karena film ini secara mengejutkan menyentuh beberapa isu yang sangat personal untuk saya. Ini membuat saya tidak bisa tidak membagi sudut pandang saya mengenainya. Dan yah, rasa-rasanya Bahasa Indonesia menjadi pilihan yang lebih tepat untuk digunakan membahas unek-unek saya mengenai film ini.

surgayangtakdirindukan2-poster

Sejujurnya, film ini dibuka dengan sangat meyakinkan. Arini (Laudya Cynthia Bella) dan putrinya Nadia (Sandrina Michelle) tampak tengah sangat sibuk bersiap untuk keberangkatan mereka ke Budapest, sementara Pras (Fedi Nuril) memacu mobilnya agar bisa mengantarkan mereka ke bandara… hanya untuk menyaksikan mobil lain kecelakaan. Yang terjadi selanjutnya tentu saja adalah serangkaian adegan yang sangat mirip dengan awal permasalahan di film Surga Yang Tak Dirindukan. Namun, dengan perlakuan yang sarat ironi, adegan tersebut justru menjadi bahan lelucon yang sangat sadar diri. Tentu saja ini meningkatkan ekspektasi saya terhadap film ini. Mungkin, kombinasi Hanung Bramantyo, Alim Sudio, dan Manoj Punjabi akan membawa angin segar. Toh film-film religi Hanung sebelumnya, seperti ? (Tanda Tanya) dan Hijab cukup menyegarkan dan masih membawa pesan yang cukup positif, meskipun tidak lepas dari berbagai aspek problematik yang sepertinya memang identik dengan film religi Indonesia.

Sayang, film ini kemudian menunjukkan sosok aslinya sebagai film religi kebanyakan. Sesampainya Arini dan Nadia di Budapest, mereka justru bertemu dengan Meirose (Raline Shah) dan putranya Akbar. Pertemuan ini dan serangkaian kejadian lain, membuat baik Arini yakin bahwa ini semua adalah suratan takdir. Ia pun dengan gigih membujuk Meirose untuk kembali ke kehidupan rumah tangga mereka sebagai istri kedua Pras. Apalagi, Nadia setuju dan sangat ingin mewujudkan keinginan ibunya itu. Konflik batin pun melanda Pras, yang tidak yakin ia akan bisa bersikap adil jika memang memilih berpoligami. Sementara Meirose semakin bimbang. Akankah ia memilih kembali ke kepastian masa lalu yang selama ini ia tinggalkan, atau memilih untuk menyongsong masa depan yang tentu saja tidak pasti dengan melanjutkan hidupnya di sini bersama Dokter Syarief (Reza Rahadian)?

Secara teknis, sesungguhnya film ini tidak seburuk itu. Di luar masalah penulisan dan dramatisasi yang sesungguhnya sangat sinetron, tentunya. Pengambilan gambar cukup sesuai dengan penggunaan Budapest sebagai latar belakang semata, mengeksplorasi keindahan dan eksotisme kota tersebut. Meski tidak ada shot yang sungguh membekas, tapi semua yang ada di layar terhitung enak dilihat dan cukup memanjakan mata. Musiknya pun tidak sampai memekakkan telinga dan pemilihan lagu tidak mengganggu. Jajaran pemain, apalagi. Semua berperan dengan sangat baik dan berhasil menghadirkan emosi di setiap karakter. Film ini sekali lagi membuktikan bahwa Reza Rahadian pasti bisa memanusiakan karakter yang ia perankan, sedangkal apapun penulisannya. Di film ini, tampak jelas bahwa Dokter Syarief ditulis sebagai karakter antagonis, sosok yang mengancam keharmonisan rumah tangga Pras-Arini-Meirose. Ia adalah sosok yang menggoda dan menjauhkan Meirose dari surganya bersama Pras. Syarief bahkan digambarkan sebagai sosok yang jauh lebih inferior daripada Pras dalam masalah agama, sehingga kemampuannya untuk menjadi imam rumah tangga bagi Meirose sangat diragukan. Namun Reza Rahadian tetap berhasil membuatnya menjadi karakter yang paling menarik dan terasa dekat dengan keseharian saya.

Intinya, jika hanya berdasarkan masalah teknis, film ini masih sangat pantas ditonton. Dan di pasar yang tepat, film ini akan membius. Bahkan bisa jadi memperkuat atau mengubah pemikiran serta keyakinan orang-orang mengenai isu-isu yang diangkat di sini. Namun justru itu yang menjadi masalah saya dengan film ini. Bukan semata karena isu religi yang dibawa. Saya percaya bahwa jika digarap dengan benar, film religi masih dapat menjadi tontonan yang menyenangkan dan menghanyutkan. Seperti Mencari Hilal, di mana Hanung Bramantyo juga kebetulan terlibat sebagai produser. Masalah saya terletak pada karakter Arini. Arini digambarkan sebagai sosok perempuan muslim ideal, sosok yang harus dicontoh oleh seluruh perempuan muslim lainnya. Dan sebagai orang yang pernah menjadi korban dari propaganda doktrin seperti ini, tentu saja saya merasa, yah, antipati terhadapnya.

Arini, bagi saya, menggambarkan standar ideal yang tidak masuk akal bagi para perempuan muslim. Tidak hanya rajin beribadah dan memakai kerudung (sungguh, pembahasan mengenai doktrin bahwa perempuan harus menutup aurat dengan memakai kerudung membutuhkan satu tulisan tersendiri), Arini juga sangat feminin dan lemah lembut serta pengasih. Dan yang terpenting, ia sangat menjura terhadap suaminya. Tentu tak ada yang salah dengan menghormati pasangan hidup, atau mencintai mereka sepenuh hati. Idealnya memang hubungan romantis (dan/atau pernikahan) dijalani oleh dua orang yang saling menghormati dan saling mencintai. Tapi sebuah hubungan tidak lagi ideal dan justru menjadi tidak sehat ketika kebahagiaan dan kebutuhan pasangan menjadi jauh lebih penting daripada diri kita sendiri. Dan bukankah itu yang ditunjukkan di sini? Arini, terbutakan oleh niatnya untuk menjadi “istri yang berbakti”, menempatkan Pras di atas segalanya. Bahkan kesehatan dan kebahagiaannya sendiri, serta yang terpenting, kebahagiaan orang lain.

Film ini berusaha menggambarkan Arini sebagai sosok muslimah yang tegar dan penuh kasih sayang. Tapi menolak menjalankan kemoterapi dan melakukan pengobatan apa pun karena “usia sudah diatur Allah” itu bukan bentuk perilaku tegar apalagi tawakal. Tawakal seharusnya dilakukan setelah ikhtiar. Ketika semua usaha untuk menyembuhkan diri telah dicoba sebagai bentuk ikhtiar, baru kita boleh berserah diri dan bertawakal sehubungan dengan masalah usia dan kesehatan. Memaksa Meirose dan Pras untuk kembali bersama agar Meirose dapat menggantikan posisinya di sisi Pras juga bukan bentuk ketaatan terhadap suami, ketegaran, apalagi bentuk welas asih dan ikhlas. Itu adalah keegoisan dan masokisme yang didasari oleh doktrin patriarkis.

Iya. Yang dilakukan Arini itu egois. Meirose jelas-jelas telah memiliki kehidupan baru yang jauh lebih baik. Kondisi mental dan emosionalnya jauh lebih stabil. Ia bisa menjadi ibu yang baik bagi Akbar dan memiliki hubungan baik dengan orang-orang sekitar, dihormati dan diterima oleh mereka. Ia juga telah menjadi wanita independen yang sukses secara finansial sebagai pemilik toko. Pun ia telah memiliki kehidupan romantis bersama Dokter Syarief, yang diterima olehnya dan oleh Akbar. Dengan menuntut Meirose untuk kembali ke sisi Pras, Arini dengan egois memaksa Meirose untuk mengabaikan semua itu. Tentu saja atas nama ketaatan terhadap suami. Karena kebahagiaan dan kenyamanan hidup Pras tak boleh diganggu gugat, termasuk oleh penyakit Arini atau pun kehidupan pribadi Meirose. Keputusan kedua wanita itu bukan lah bukti ketulusan cinta dan ketaatan terhadap agama serta suami. Mereka sesungguhnya menjadi korban pemikiran misoginis, hasil dari doktrin patriarki yang menempatkan lelaki di atas segalanya dan menekan perempuan. Dan film ini melanggengkan pemikiran itu.

Film, pada akhirnya adalah media komunikasi yang menyampaikan pesan-pesan serta pemikiran tertentu. Dan dengan menempatkan Arini sebagai “perempuan idaman bagi semua lelaki” seperti yang dikatakan Meirose, film ini mendorong orang-orang untuk menjadikan Arini sebagai panutan. Arini, dengan segala perilaku misoginisnya, diperlakukan sebagai perempuan ideal meski ia hanyalah korban patriarki yang lemah dan egois. Dan menempatkannya sebagai ideal akan membuat orang-orang lain mengikuti jejaknya. Mati-matian menuruti standar ideal untuk selalu melayani suami dan menempatkan kebahagiaan suami di atas segalanya. Bahkan di atas harga diri dan kebahagiaan diri sendiri, seperti dengan merelakan mereka memadu perempuan lain tanpa meminta persetujuan sebelumnya. Karena sudah terlalu sering pemikiran seperti ini dipaksakan pada perempuan yang menyandang status muslim. Dan saya sendiri pun butuh waktu sangat lama untuk bisa terbebas dari belenggu ekspektasi yang menyesakkan serta tidak adil tersebut.

Memang Surga Yang Tak Dirindukan 2 adalah film yang dimaksudkan untuk menjadi hiburan semata, dan target pasarnya tentu akan sangat menikmati film ini. Maka sungguh disayangkan bahwa film ini ternyata menjadi tontonan yang berceramah mengenai ideal-ideal yang toxic dan berbahaya. Penggambaran Arini yang sangat membuat risih dan segala klise yang mengganggu semakin membuat film ini sangat tidak menyenangkan untuk ditonton.

 

Sutradara: Hanung Bramantyo. Penulis: Hanung Bramantyo, Alim Sudio, & Manoj Punjabi. Dirilis pada: 9 Februari 2017. Pemeran: Laudya Cynthia Bella, Fedi Nuril, Raline Shah, Reza Rahadian.

Comments

  1. Benar saya setuju..ada yang aneh dengan alurnya..dan Pras sebagai suami juga tindakannya gak masuk akal untuk seorang lelaki yang mengaku sangat mencintai istrinya, pada masa yang sama memanjai wanita lain..menurut saya, pemaksaan Arini itu bukan egois, tapi dia memilih berkorban dan menyerah. Setelah melihat sendiri dengan mata kepalanya perlakuan suaminya dan wanita itu. Menurut saya, egois di sini lebih tepat untuk watak Meirose. Katanya dia sudah tulus pergi dari hidup pasangan ini, dan mau memulai hidup baru. Tapi di beberapa adegan, ya mungkin sepanjang pertemuannya dengan Pras, tingkahnya menunjukkan bahwa dia masih berharap terhadap Pras. Contohnya adegan mayonis di mana dia memilih mengelap muka Pras dengan romantisnya, adegan ketika Akbar sakit Meirose menyandarkan bahunya pada Pras dan adegan saling menatap Pras dengan pandangan dalam. Jadi Arini sebagai istri Pras yang menyaksikan sendiri hal itu, sebagai perempuan biasa, hatinya pasti terluka, dan karena terus dilukai, itu menghantarnya pada satu titik di mana dia memilih berkorban, menyerah dan ikhlas. Benar sekali sebagai wanita, gak harus mudah menyerah, tapi apabila sampai pada batasnya, dia tidak bisa dan hilang semangat untuk melakukan apa-apa lagi. Jadi, menurut saya, watak yang kurang tepat untuk diikuti oleh laki-laki dan wanita di luar sana adalah Pras dan Meirose. Karena, banyak hal tidak jujur yang dilakukan mereka di belakang Arini sehingga memasukkan mereka ke dalam kategori pengkhianatan, sedangkan kalau di kehidupan nyata, sudah jelas hal-hal itu gak pantas dilakukan oleh seorang laki-laki yang sudah beristri dan wanita yang tahu posisi nya di mana. Arini sangat memahami sesama wanita, dan dia tahu Meirose masih mencintai suaminya, jadi dia memilih ikhlas. Sementara Meirose, banyak adegan menunjukkan perlakuannya yang menghantar Arini kepada sebuah penderitaan dan luka seorang istri yang dikhianati.

    1. Menurut saya, perilaku Meirose justru lebih masuk akal dan bisa dimengerti. Perilaku dia menggambarkan sekali kebimbangan dia sebagai orang yang sudah berniat untuk memulai hidup baru, namun kemudian ditarik kembali oleh kehidupan lamanya. Memang Meirose sudah move on dari Pras, namun tentu wajar jika kemunculan Pras membangkitkan kembali perasaan-perasaan lama. Maka sangat bisa dipahami jika pada beberapa situasi, ia memperlakukan Pras seperti ketika mereka masih bersama dahulu. Apalagi karena atmosfir dan situasi saat itu sangat mendukung, entah karena Meirose merasa sendirian, ketidakberadaan Syarief sebagai pasangannya, atau hanya karena Meirose merasa Pras masih bisa menjadi tempatnya bersandar saat ia kalut. Apakah Meirose egois? Tentu saja. Tapi keegoisannya sangat bisa dipahami. Begitu juga dengan Pras, saya bisa memahami perilakunya sebagai sosok yang meski berusaha setia, tetap merasa terbebani oleh keharusan untuk bersikap adil terhadap Meirose. Keinginannya untuk berbuat adil mendorongnya pada keputusan untuk menceraikan Meirose, dan ia pun berusaha untuk tidak membebani Meirose. Tapi di saat yang sama, tak mungkin ia tak menopang atau membantu Meirose saat Meirose sedang kalut dan terkena masalah. Apalagi Pras juga punya ikatan emosional dengan Akbar, yang pernah ia urus selayaknya putra sendiri.

      Sementara Arini, menurut saya, egois untuk alasan yang sangat berbeda. Ia egois karena merasa bahwa ia berhak mengatur hidup Pras dan Meirose. Ia egois karena ia merasa tahu apa yang terbaik untuk semua orang lain. Ia egois, karena ia menempatkan dirinya sebagai sosok yang terluka dan memaksa orang-orang untuk menuruti “permintaan terakhirnya”. Dan keegoisan Arini didorong oleh kepercayaan bahwa dengan melakukan itu semua, ia akan menjadi perempuan yang berbakti pada suami sesuai dengan aturan agama. Berbeda dengan keegoisan Meirose dan Pras, yang justru disebabkan oleh kekurangan mereka sebagai manusia biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *