An emotionally invested enthusiast of pop culture in the guise of a Copywriter. Apathetic by design. Aesthetically offensive and eloquently candid. A sentimental heathen.

I’m not entirely sure why, but lately I have been rekindling an old flame with a certain long time on-screen-crush of mine. To be exact, a certain Scarecrow that’s publicly known as Cillian Murphy. Dan google kemudian berbaik hati memberi tahu saya bahwa Tom Hardy dan Cillian Murphy akan kembali bekerja sama dalam season 2 dari series BBC yang berjudul Peaky Blinders. Jadi setelah menghabiskan beberapa waktu untuk hyperventilating dan histeris di twitter, I set out to download the whole first season. And watch all of the six episodes in one night #whatelseisnew

peaky-blinders

Peaky Blinders bersetting di Birmingham tahun 1919, setelah Great War/World War I di Prancis. The city was run by the Shelby Family: Arthur (Paul Anderson), Thomas/Tommy (Cillian Murphy), John (Joe Cole), Polly (Helen McCrory), and Ada (Sophie Rundle). They led a gang called the Peaky Blinders. The series centered on the disappearance of a crate of government’s weapons bound for Libya.

Winston Churchill pun mengirim Inspector Campbell (Sam Neill) untuk menyelidiki dan menemukan kembali senjata tersebut. Dalam misinya ini Campbell dibantu oleh Grace Burgess (Annabelle Wallis), yang menyusup dengan melamar sebagai pelayan bar di the Garrison Tavern. They have three primary suspects: the Communist, IRA, and none other than Peaky Blinders. Campbell was more than determined to found the gun with any means necessary, and his personal values compel him to clean the street off of those aforementioned groups. While Grace hold personal grudges against the IRA.

But the two government officials soon learn that they should never underestimate the Peaky Blinders. Especially when they’re up against someone as cunningly charming as Thomas Shelby.

Peaky Blinders

Pertama-tama, sebagai self-proclaimed BBC fangirl, saya sebenarnya malu karena baru tahu soal series ini sekarang. Padahal tayangnya udah September 2013 kemarin. Yah to be fair, paruh kedua tahun lalu memang sangat heboh karena segala hype mengenai Doctor Who 50th anniversary dan Matt Smith’s regeneration (Peter Capaldilf, anyone?). Belum lagi hype tingkat tinggi soal then-upcoming Sherlock Season 3. Tapi tetep aja, meleng dan kelewatan Peaky Blinders itu rasanya dosa banget.

Because this series is a gem. It’s a historic crime drama series about gangs and their dirty politics – a Godfather kind of series, but in England. Pemeran utamanya tak lain tak bukan adalah Cillian Murphy, yang kemampuan(dan kegantengan)nya sudah tidak perlu diragukan lagi. Dan ini seriesnya BBC. BBC, stasiun TV Inggris yang sepertinya dibuat untuk memuaskan kebutuhan fandom orang-orang akan TV series berkualitas itu. Kalau ibaratnya makanan nih ya, Peaky Blinders itu udah punya resep sama bahan yang mumpuni, dan berada di tangan chef ternama. Kita tinggal duduk manis aja dan ngeliat gimana bahan-bahan itu akan diolah dan disajikan.

And I was more than pleased to say that once again, BBC live up to my expectations. Dari episode pertama aja, udah kerasa bahwa Peaky Blinders ini adalah tipe-tipe series yang bakal merusak hidup. Tahu kan, tipe series yang bikin kecanduan dan gak bisa berenti nonton. Terus bahkan setelah selesai nonton satu season pun tetep kebayang-bayang dan bikin pengen nonton ulang. And then you got all depressed because you just want to talk and spazz about it but none of your peers have watched it yet and you can’t babble to them or you might spoil the show. Steven Knight sebagai kreator series ini berhasil menciptakan sebuah drama yang memikat, terutama karena ceritanya yang emang seru dan bikin penasaran.

5288440-large

Peaky Blinders membuka ceritanya dengan what seems to be a rather cliche act of the second brother doing things on his way and going against his older brother who run the family. Saya sebagai penonton langsung berpikir bahwa series ini bakal bercerita soal usaha Tommy untuk membuktikan diri dan merebut tampuk kepemimpinan Peaky Blinders dari Arthur. Lebih jauh lagi, keliatannya ini bakal jadi Thomas Shelby against the world. Pasti fokusnya ke Tommy, sebagai karakter sempurna yang bisa ngapa-ngapain aja sendirian sementara anggota keluarganya yang lain itu sekedar pemeran pembantu aja. Sementara Campbell keliatannya adalah polisi lurus yang bau-baunya super ngeselin dan bakal dipermalukan oleh Peaky Blinders. Apalagi kemudian muncul Grace, yang dari pertama jalan masuk bar aja udah sangat mencurigakan dan seolah meneriakkan bahwa dia adalah polisi undercover. Dan gak butuh jenius untuk menebak bahwa Grace nanti pasti bakal jadi love interest-nya Tommy, lengkap dengan segala klise ala Romeo and Juliet. What more cliche do you need?

Untungnya, menit demi menit bergulir dan membuktikan bahwa kekhawatiran saya tidak beralasan. Pertengakaran Tommy vs Arthur di awal itu sekedar pancingan because it turns out that Arthur was never the leader of the gang. Tommy is the head of family, and Aunt Polly is the matriarch who run the family business alongside him. And it’s not Tommy against the world, no, it’s more complex than that. Peaky Blinders is about the factions that resides in Birmingham, all those conflicting people with their conflicting agenda, and how they selfishly tries to thrive in the fucked up society. Selama enam episode, Steven Knight, Toby Finlay dan Stephen Russell membawa kita menyusuri kehidupan orang-orang yang berada di berbagai kelompok yang saling berseberangan ini, mengikuti setiap langkah yang mereka lalui dan masalah yang mereka hadapi. Granted, Peaky Blinders masih agak klise because it relies quite heavily on the love story between Tommy and Grace. Tapi itu bukan arc utama dan lebih jadi plot device untuk memacu pergerakan cerita aja. Untungnya juga arc Tommy-Grace ini well executed sehingga perkembangan kisah mereka bikin gemes. Baik itu karena those annoyingly predictable development, maupun juga karena restrain serta subtlety dari kedua tokoh yang bikin penonton gemes nunggu breaking point. But don’t mistake it for a romantic flick, because at the end of the day, Peaky Blinders is a story about survival – and family. A very good one, at that. Meskipun agak sayang juga sih sebenernya karena saya pengen liat dan tau lebih banyak lagi soal karakter-karakter lain dan cerita kehidupan mereka masing-masing. Peaky Blinders memang memberi porsi yang cukup bagi mereka, but I can’t help but to want more. Oi, gue bahkan gak inget udah ngeliat anak-anaknya John! I want to see those little Shelbys!

peaky_blinders_group

Also, I found the characterization very refreshing because it’s not your typical good vs bad society with people standing on white and black spectrum. It’s all grey area here on Peaky Blinders. On one side, the police and government are actually trying to do their best to fix England up, but more than often they’re just annoying hindrance because they have this fixed point of view about what is good and what is bad. Baik Campbell dan Grace sesungguhnya adalah sosok polisi dengan ideologis yang mengabdi pada negara. Tapi Campbell dan sifatnya yang terlalu kaku membuatnya tidak menyadari bahwa sesungguhnya ia seringkali bersikap lebih rendah daripada sosok-sosok yang dia anggap sebagai sampah masyarakat. Grace juga kerap dibutakan oleh impuls dan dendam pribadinya dia sehingga bertindak cukup reckless dan jadi ngeselin.

Di sisi lain, tokoh utama dari series ini adalah sekelompok geng yang kerjanya melanggar hukum, tapi mereka juga gak lantas digambarkan sebagai sosok protagonis yang tertindas. Mereka punya sisi buruk yang repulsive, but at the same time you can’t help but to find them intriguing. Thomas Shelby, misalnya. Meskipun dia tokoh utama, dia gak lantas jadi sosok yang super capable. Despite his intelligence, reserved, and manipulative nature, you’ll find him in vulnerable state more than one. He still needs help from his people, and he’s actually perturbed by many things – such as his family and how they perceived him. Aunt Polly digambarkan sebagai sosok matriarch yang pintar, tegas, tapi juga bisa rapuh dan emosional. Arthur is almost gullible, but he’s also loyal and strong in his own way. John may seems reckless and thick, but he’s caring and more than willing to take one for the team. Ada is more than often looks like a spoiled princess, but she’s also a Shelby with a backbone. And one thing that is very apparent from the Shelby family is that, despite everything, they are all very loyal to their kin and family is of the utmost importance for them.

pb5

Karakter-karakter dalam Peaky Blinders sangatlah human dan manusiawi, dan mereka dihidupkan dengan sangat baik oleh aktor dan aktris yang terlibat. Sam Neill sebagai Campbell punya presence yang sangat menusuk mata, dan begitu dia muncul di layar dia seolah memaksa kita untuk memperhatikan dia. He was so repulsively captivating, and despite all the resentment that him and his demanding presence caused, you could still see the layered vulnerability that Sam Neill oh-so-delicately shown from time to time. Dan sebagai lawannya, ada Cillian Murphy yang, berkebalikan dengan Neill, justru lebih sering terlihat sangat restrained dan terkontrol. Cillian cleverly give off this mild presence, seolah dia tidak ingin terlalu menonjol, but at the same time he’s sucking you off with his refined charisma. And when in need, Cillian could easily let loose of the beast that Thomas Shelby actually is. Bias aside, entah kenapa saya suka sekali sama cara Cillian Murphy menampilkan seorang Thomas Shelby sebagai sosok anti-hero yang sangat manusiawi and you just can’t help but to fall in love with. And his portrayal land him Golden FIPA 2014 for Best Actor. Baik Paul Anderson dan Joe Cole juga menampilkan karakter mereka masing-masing dengan baik dan charming in their own way, sementara Alfie Evans-Meese sebagai Finn Shelby – the youngest of the Shelby family yang jarang muncul given his young age – juga sangatlah adorable. Ada satu scene antara Finn dan Thomas yang bikin hati saya pecah berantakan karena Alfie keliatan sangat minta diprotektifin sementara Cillian keliatan sangat rapuh dan terguncang. The real scene stealer, though, adalah Iddo Goldberg sebagai Freddie Thorne, sosok komunis yang terus menerus berpindah dari spektrum negatif ke positif sepanjang enam episode. His ever-changing persona is just fascinating. Sementara di sisi para aktris, yang paling menonjol justru adalah Helen McCrory and her majestic portrayal as Aunt Polly. Helen was just charismatic, attractive, commanding, aspiring dan astaga, cewek mana sih yang gak mau jadi sekeren Aunt Polly. No wonder she won Golden FIPA’s best actress. Sementara Annabelle Wallis entah kenapa terlihat sedikit terlalu rapuh for my liking – saya semacam mengharapkan sosok yang lebih keras kepala supaya bisa mengimbangi para Shelby dan Annebelle Wallis falls short on delivering that conviction. I sort of feel like she’s the weakest link in this whole series. Bahkan Sophie Rundle yang kerap kali kelihatan depresi dan manja – which is a given considering she’s the only daughter with three protective and influential brothers – bisa menampilkan dengan baik determinasi khas Shelby saat dibutuhkan.

All in all, Peaky Blinders bagi saya adalah sebuah series berkualitas yang pantas mendapatkan jauh lebih banyak perhatian dan devotion dari para penontonnya. It’s not perfect, no, masih ada bagian-bagian klise yang menyebalkan dan exposure terhadap tokoh-tokoh pembantu jelas bisa ditambah. But it’s a very good series, with enchanting stories about family and stellar casts that you could easily have a crush on. Otto Bathurst and Tom Harper did a worthy job of delivering this series through their respective episodes as director. Dan jangan lupa kalau series ini punya soundtrack yang sangat indah, courtesy of Nick Cave, The White Stripes, Jack White, and many more. I swear, Nick Cave & The Bad Seeds’ Red Right Hand is my current jam because it’s just that good.

 

Peaky Blinders

 

Director: Otto Bathurst (1-3) & Tom Harper (4-6). Writer: Steven Knight, Toby Finlay, Stephen Russell. Released on: 12 September – 17 October 2013. Casts: Cillian Murphy, Sam Neill, Helen McCrory, Paul Anderson, Joe Cole, Annabelle Wallis, Sophie Rundle, Iddo Goldberg.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *