An emotionally invested enthusiast of pop culture in the guise of a Copywriter. Apathetic by design. Aesthetically offensive and eloquently candid. A sentimental heathen.

Fifth Estate pertama kali mengusik rasa penasaran saya sekitar pertengahan tahun lalu. Alasannya tentu saja sesimpel keberadaan platinum-blonde Benedict Cumberbatch yang entah kenapa mirip sama Lucius Malfoy. Dan makin penasaran lagi saat belakangan saya tahu kalau cast lainnya adalah Daniel Bruhl (yang super captivating di Rush), Peter Capaldi (the 12th Doctor yang sudah resmi jadi tokoh utama Doctor Who sejak Natal kemarin), dan David Thewlis (a.k.a the beloved Remus Lupin of Harry Potter). Tapi ternyata filmnya gak rilis di Indonesia. Dan cari download link yang legit itu kayak cari jarum di gudang jerami. Untung akhirnya DVDnya rilis.

thefifthestate_poster

WikiLeaks started out as a “me against the world” act of Julian Assange (Benedict Cumberbatch). Hingga akhirnya ia bertemu dengan Daniel Berg (Daniel Bruhl) yang memiliki idealisme serta tujuan yang sama dengannya. To fight for transparency while protecting their sources. And so they set out to change the world.

But nothing is ever that easy.

fe1

Jadi. Mulai dari mana. Okay, pertama saya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang WikiLeaks, kecuali dari sedikit yang kadang muncul di timeline. Ketertarikan saya terhadap film ini muncul murni dari cast-nya yang jaminan mutu dan juga dijamin bisa bikin fangirl histeris karena ini major fandom clash banget. Dan ini bukan bias saat saya bilang bahwa susunan cast itulah yang menyelamatkan film ini. The play wouldn’t have worked out if it’s not for their outstanding performances.

Fifth Estate, entah kenapa, seolah kurang bisa menentukan fokus yang ingin ia sampaikan melalui ceritanya. To be blunt, this movie was trying to not-so-subtly wage a smear campaign on Assange. I mean, just look at the character posters where Assange is labeled the “traitor” while Berg is the “hero”. Where is subtlety when you need one. But then amidst the campaign, Fifth Estate lost it’s focus ith the predictable subplot of Sarah and Tarek. True, it does add more point to the emotions, and it sorta kinda shows the damage that WikiLeaks could do, tapi masalahnya cerita itu terlihat lebih seperti tempelan semata. Semacam usaha lebih lanjut lagi untuk menunjukkan bahwa cara Assange memang salah dan tidak seharusnya dia dibiarkan. Gitu. Mungkin itu hanya hasil dari cara baca saya yang agak berlebih terhadap pesan yang ingin disampaikan oleh film ini. Tapi mau gimana lagi itu kan memang kerjaan anak komunikasi media kayak saya harus diakui bahwa film ini memang terlihat cenderung bias dalam menggambarkan tokoh-tokohnya. Sisi negatif dari Julian Assange terlihat dengan sangat jelas sementara Berg tampak jauh lebih seperti korban. Wajar sih, sebenernya, mengingat film ini kan memang berdasarkan pada dua buku yang salah satunya dibuat oleh Berg. I’m not saying that Berg is not telling the truth in his book, or that this movie is in anyway incorrect. What I’m saying, is that it’s only normal that Berg’s point of view is biased and he’d paint himself in a brighter light that Assange’s.

Lebih jauh lagi, Fifth Estate bagi saya… gak nampol aja gitu. Datar terus, kayaknya. Gak ada satu titik yang benar-benar membuat saya merasa bahwa ini loh, turning point yang harusnya bikin saya berseru kaget atau merasa tersentuh. Malah, saya beberapa kali merasa jenuh. Rasa hambar dari film ini menjadi semakin transparan karena film ini mencantumkan, serta memampatkan, berbagai peristiwa pembocoran penting yang dilakukan oleh WikiLeaks. Mungkin ini adalah cara untuk menunjukkan betapa besar perubahan yang dihasilkan oleh WikiLeaks, serta betapa besar pengaruh dari website yang dibuat oleh Julian Assange itu. Namun, bagi penonton awam seperti saya yang buta terhadap politik dunia dan entah apa lagi itu yang dipelopori oleh WikiLeaks, informasi itu jadi terasa terlalu berlebih. Film ini pun jadi terasa seolah melompat-lompat dari satu titik ke titik yang lain dengan terlalu cepat, tanpa ruang yang cukup untuk mencerna serta menghubungkan apa yang baru saja terjadi dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Niatnya memang baik, karena ini akan menunjukkan betapa kuatnya WikiLeaks. Tapi niat ini juga jadi mengurangi porsi dari drama yang bisa digali untuk memperkuat film ini. Perubahan dinamika antara Berg dan Assange memang terlihat, namun hubungan role model-pengikut yang mereka miliki rasanya tidak benar-benar mencapai titik “partner” sebelum semuanya rusak. Atau mungkin perubahannya ditampilkan dengan sangat subtle? Oh entahlah. Pokoknya saya merasa drama antara Berg-Assange ini kurang digali. Anke dan Marcus juga seolah jadi tempelan, padahal kalau hubungan mereka dengan Berg lebih digali, hasilnya mungkin akan beda.

fe3

Tapi apa yang membuat 128 menit durasi Fifth Estate jadi sesuatu yang bearable? Tak lain tak bukan adalah para pemainnya, terutama Cumberbatch dan Bruhl yang tampil dengan sangat apik. Penampilan Cumberbatch sebagai Assange hampir tanpa cela, dan dia sangat meyakinkan sebagai sosok pencipta WikiLeaks yang egois, agak psikopat, dan seringkali minta ditembak. The stutter, the defensive posture, the piercing yet somehow uncertain glance… the way Cumberbatch portray the manipulative Assange got him tiptoeing in the border of pitiful and hateful. Kadang, saya tidak bisa tidak merasa terenyuh karena kehidupan Assange yang sepertinya sangat menyedihkan. Namun di saat-saat lain, I loathe him and his almost-maniacal move. Cuma, entah kenapa, mungkin karena saya baru saja nonton Sherlock Season 3 atau karena Assange juga adalah seorang jenius yang egois, Assange versi Cumberbatch ini beberapa kali mengingatkan saya pada Sherlock. Sherlock versi asshole yang minta ditendang, lebih tepatnya. On contrary, Daniel Berg di film ini tampak jauh lebih seperti korban. Sebagai seseorang yang tulus ingin mengubah dunia, dan oleh karena itu terpikat ideal Assange dan rela mengorbankan tabungan, kehidupan, dan hubungannya dengan Anke demi Assange. Di saat yang sama, ia juga yang memberikan batasan-batasan dan menjaga agar Assange tidak lepas kontrol. Berg looks like he’s trying very hard to please Assange, only to be thrown away later on when Assange no longer needs him. When Berg starts to be his own man that is holding him back from doing what he wants. Dan Daniel Bruhl… jujur awalnya saya gak mengenali dia di sini, karena beda banget sama waktu di Rush ya menurut lo aja Tapi toh Bruhl tetap menampilkan sosok Berg sebagai “korban” ini dengan baik. Dan aksennya ituloh HAHAHAHA aduh aksennya Daniel Bruhl mah bikin capek hati dan pikiran *kemudian derailed*

Oh dan tentunya ada juga penampilan yang cukup mencuri perhatian dari David Thewlis sebagai jurnalis yang ingin mengejar berita “sungguhan”, dan tidak takut untuk beradaptasi dengan perubahan. Yah, meskipun karakter scruffy-tapi-idealis-nya rada mirip sama Remus Lupin sih. Juga ada Laura Linney, Stanley Tucci, dan Alexander Siddig yang biarpun porsinya gak banyak, tapi membekas di ingatan. Apalagi Linney dan Siddig yang karakternya sama-sama kelihatan “hidup”. Bahkan jauh lebih hidup daripada karakter Marcus, Anke, ataupun Birgitta di mata saya. Dan boleh lah ya Peter Capaldi masuk honorable mention meskipun karakter dia munculnya seuprit dan entah kenapa kayak versi non-swearing dari Malcolm Tucker di The Thick of It. Tapi kan yang penting Scottish aksennya ituloh #no

fe7

 

Jadi kalau mau ditarik kesimpulan, The Fifth Estate sebenarnya punya pesan cerita yang agak bias, dan ini mempengaruhi penggambaran karakter. Ceritanya jadi terlalu berfokus pada sisi negatif Assange dan sisi positif Berg, sehingga tokoh-tokoh lain terabaikan dan lebih jadi tempelan semata. Cerita keseluruhannya pun kurang bisa dinikmati dan malah agak bikin jenuh. Untungnya, Fifth Estate bisa diselamatkan oleh beberapa dialog yang cukup membekas, dan juga visualnya yang kadang lumayan seru. Personally sih, saya suka sama metafora kantornya WikiLeaks. Biarpun penyelamat sesungguhnya memang tak lain dan tak bukan adalah para pemainnya yang aktingnya oke oke semua itu. That, and their accents.

 

fe2

 

Director: Bill Condon. Writer: Josh Singer. Released on: 5 September 2013 (TIFF). Casts: Benedict Cumberbatch, Daniel Bruhl, Anthony Mackie, David Thewlis, Stanley Tucci, Alicia Vikander, Laura Linney, Peter Capaldi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *