An emotionally invested enthusiast of pop culture in the guise of a Copywriter. Apathetic by design. Aesthetically offensive and eloquently candid. A sentimental heathen.

Here comes another part of the Doctor Who 50th Anniversary Celebration. Because what better way is there to fall deeper in the Whoniverse but by watching a docudrama about it’s creation? Itu, dan karena saya nulis ini waktu saya lagi di kelas dan bosen setengah mati. What else is new.

adventure_poster

 

Di tahun 1963, Sydney Newman (Brian Cox), kepala divisi drama di BBC  diminta membuat sebuah serial televisi baru. Sydney mendapat ide untuk membuat sebuah serial sci-fi, dan untuk itu ia menunjuk Verity Lambert (Jessica Raine) sebagai produser drama perempuan pertama di BBC. Teaming up with Waris Hussein (Sacha Dawan), an Indian-born director, the two convinced William Hartnell (David Bradley) to play the main role: the Doctor.

advent1

Saya gak ngikutin Classic Who, dan pengetahuan saya soal Classic Doctors sebenarnya mandeg di Paul McGann. Itu pun karena dia muncul di the Night of the Doctor dan ganteng. Saya juga gatau apa-apa soal orang-orang di balik layar Classic Who, mengingat orang di balik layar Doctor Who versi reboot aja saya cuma tau Moffat, Gatiss, sama Russell. Jadi sebenarnya, saya nonton docudrama ini tanpa ekspektasi apa-apa dan cuma berharap saya bisa lebih tau aja tentang Doctor Who.

Tapi di awal, saya langsung melihat David Bradley delivering a very heartbreaking performance of William Hartnell in his final scene as the Doctor, and I was hooked. Selama 90 menit berikutnya, Terry McDonough membawa penonton ke tahun 1960an untuk menyaksikan tidak saja kelahiran Doctor Who, but the struggles that come with it. Skrip yang ditulis oleh Mark Gatiss (a.k.a Mycroft in BBC’s Sherlock and Doctor Lazarus in Doctor Who’s 3rd season’s The Lazarus Experiment) menceritakan mengenai tiga outcasts in the typical world of television production. Mereka diberi tanggung jawab untuk membuat sebuah serial televisi yang berhasil, bahkan meskipun mereka tidak mendapat perlakuan yang sepenuhnya adil dan diremehkan oleh semua orang. Mereka harus bekerja di studio yang sering mengalami malfunction, dijadikan prioritas entah nomor kesekian oleh tim kreatif BBC, dan bahkan terancam dibatalkan setelah tayang satu episode.

Yet against all odds, they thrives.

An-Adventure-in-Space-and-Time-2788640

It’s a classic and cliche tale, really. But what makes this docudrama special is how Gatiss properly conveys his love for the series as one of it’s creator, and we can see that he was not the first to do so. Lewat An Adventure in Space and Time, kita bisa melihat bagaimana Verity Lambert dan Waris Hussein benar-benar menuangkan segala yang mereka punya untuk memperjuangkan Doctor Who, dan kita melihat bagaimana semua orang yang terlibat dalam produksi serial TV ini perlahan jatuh cinta pada the Doctor. This is a story on how the Doctor literally touches and changes the lives of people involved with him. Kita melihat bagaimana, berkat Doctor Who, Verity Lambert dan Waris Hussein memperoleh recognition that they deserve dan akhirnya ditarik untuk mengerjakan proyek-proyek BBC yang lebih besar.

But most of all, An Adventure in Space and Time is a heartwarming story about an old actor who, being way past his prime, has given up on fame and himself. An Adventure in Space and Time mengenalkan kita pada sosok yang keberadaannya sangat vital terhadap kesuksesan Doctor Who, William Hartnell, and how the Doctor changed even him. Meskipun dia memulai perannya dengan agak skeptis dan agak sulit diajak bekerja sama, seiring berjalannya waktu ia menjadi satu dengan sosok the Doctor dan bahkan mengembangkan hubungan pertemanan yang baik dengan aktor-aktor lain serta Verity sendiri. Kita melihat Hartnell berjuang melawan kondisi kesehatannya yang semakin menurun, dan di saat yang sama berjuang mengatasi kesedihan atas perpisahan yang harus ia lakukan dengan Claudia Grant (Carole Ann Ford) pemeran Susan Foreman, dan terutama dengan Verity Lambert sendiri.

Dan sosok William Hartnell itu berhasil dihidupkan kembali dengan sangat apik oleh David Bradley. David Bradley delivers a very convincing, touching and at the same time heartbreaking portrayal of an old actor who, just when he feels like he have found his place and purpose, is forced to say goodbye to everything that he loves because at the end, no one’s irreplaceable. His tearful performance of each parting, the bitterness that he tried to conceal underneath his hard exterior, is just irresistible. Jessica Raine tampil dengan meyakinkan sebagai seorang perempuan mandiri dan keras kepala, yang tahu apa yang harus ia lakukan. Sacha Dawan is simply lovable as Waris Hussein, while Brian Cox is demanding and yet not entirely heartless.

STRICTLY EMBARGOED FOR USE UNTIL 0001 18 OCTOBER, 2013 GMT.  An Adventure in Space and Time

An Adventure in Space and Time is more than just a side-dish in the 50th anniversary celebration. It’s a tribute to honor the three person that made Doctor Who the way that is today. Tidak akan ada Doctor Who seperti yang kita tahu sekarang tanpa kemauan keras Verity Lambert, kekreatifan Waris Hussein, dan sosok William Hartnell yang tak tergantikan. And really, this docudrama simply made me fall in love all over again for the enchanting tale that is Doctor Who and the madman in a box, known as the Doctor.

Hartnell’s goodbye though—- Bradley’s throaty and devastated “I don’t want to go” though—- so heartbreaking and my Tenth feels I can’t—- *sobs and breakdown*

 

00_20_60MB

 

Director: Terry McDonough. Writer: Mark Gatiss. Released on: 22 November 2013. Casts: David Bradley, Jessica Raine, Sacha Dawan, Brian Cox.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *