An emotionally invested enthusiast of pop culture in the guise of a Copywriter. Apathetic by design. Aesthetically offensive and eloquently candid. A sentimental heathen.

Rasanya udah lama banget sejak terakhir kali saya nonton film Indonesia. Terakhir nonton film Indonesia…kayaknya Modus Anomali deh. Iya, itu film tahun 2012. Iya, emang udah selama itu saya gak nonton film Indonesia dan bahkan Habibie Ainun aja saya gak nonton. Sue me, tapi sumpah deh saya gak update sama sekali sama film Indonesia. Yang saya tungguin paling cuma The Raid 2: Berandal sama Killers doang. Tapi kebetulan waktu itu liat talkshownya Sokola Rimba dan demi mendengar kalau ini hasil kerja Mira Lesmana sama Riri Riza, akhirnya saya pun ngebelain nonton film Indonesia lagi. And anyway, mengingat bahwa ini film Indonesia dan practically yang main cuma Prisia Nasution, I suppose this will be a fangirl-rant-free post, for once.

sokolarimba-poster

Pada periode pasca reformasi, Butet Manurung (Prisia Nasution) adalah seorang aktivis LSM yang telah menemukan panggilan hidupnya: mengajari Anak-Anak Rimba di hulu sungai Makekal membaca, menulis, dan berhitung. Hingga suatu ketika, Butet terserang demam malaria di tengah hutan dan diselamatkan oleh seorang anak dari hilir Sungai Makekal.

Dari situlah Butet bertemu dengan Nyungsang Bungo  (Nyungsang Bungo), dan dari situ pula niat Butet untuk memperluas daerah pengajarannya tumbuh. Meskipun tentu saja, niat baik Butet itu bukannya tidak mendapat tantangan baik dari kelompok rombongan Bungo maupun dari LSM tempatnya bekerja.

sokola-rimba_lf-s011-13-330738_adegan_4

Rasa-rasanya tidak perlu lah ya, saya pakai bilang kalau film ini bagus. Nama Mira Lesmana dan Riri Riza toh sudah lebih dari cukup untuk menjadi jaminan mutu serta kualitas film Sokola Rimba ini. Dan film ini memang bagus, sampai saya berani bilang kalau film ini memang wajib tonton dan yang gak nonton bakal nyesel banget. Because it’s not just about the quality of the movie, but also about the message that it conveys. And for me personally, pesan yang dibawa film ini ngena banget.

Sokola Rimba tidak hanya menampilkan keindahan Hutan Bukit Duabelas di Jambi sana, namun juga menangkap kehidupan Orang Rimba dan membawa kita mengenal dengan lebih baik kepercayaan serta kebiasaan mereka. Apalagi, semua interaksi antara Butet dan Orang-Orang Rimba di film ini terlihat sangat natural. Salut buat Prisia yang tidak hanya terlihat berakting sebagai Butet, namun benar-benar menyelami perannya sebagai guru dan juga teman bermain anak-anak rimba tersebut. Baik Nyungsang Bungo, Nengkabau, dan juga Beindah pun terlihat tidak kaku di depan kamera. Apalagi Nengkabau sama Beindah yang super adorable dan menggemaskan itu. Credit buat Riri Riza dan kru lain yang bisa membuat mereka sesantai dan senatural itu. Anehnya, yang saya rasa agak awkward justru malah atasannya Butet, atau mungkin itu karena saya gak suka sama dia kali ya hahaha.

sokola-rimba_lf-s011-13-330738_adegan_5

Tapi buat saya, yang bener-bener bikin film ini bagus adalah kemampuannya untuk menyampaikan pesan mengenai pendidikan. Sokola Rimba mengingatkan kita mengapa pendidikan adalah sesuatu yang penting, dan betapa pendidikan di Indonesia sesungguhnya memang masih belum merata dan butuh banyak perbaikan. Dan jujur sepanjang film, saya dibuat iri oleh anak-anak Rimba itu dan antusiasme mereka untuk belajar. When was the last time studying brought me such happiness? When was the last time I study simply because I want to learn, not because I feel pressured to do so? I’m starting to think that there’s something really wrong with our education system when the young ones me included does not actually get the purpose of studying.

Di saat yang sama, Sokola Rimba juga menunjukkan potret masyarakat Indonesia saat ini. Mereka yang ada di ibu kota negara dan daerah-daerah maju lainnya seolah dibutakan oleh modernisasi yang mengurung mereka, dan lupa bahwa Indonesia sesungguhnya adalah sebuah negara yang sangat luas dengan beragam masyarakat dan adat lokal mereka sendiri-sendiri. Melihat kehidupan Orang Rimba yang semakin terdesak, kita dibuat bertanya-tanya mengenai di mana kepedulian pemerintah dan masyarakat umum as a whole. Atau jangan-jangan mayoritas orang Indonesia memang sudah seperti para penebang itu, yang menganggap bahwa Orang Rimba adalah orang-orang bodoh yang bisa ditipu dan dimanfaatkan? Dan melihat perlakuan serta prejudice yang mereka terima, and I found myself sympathizing with them, and I get where all those suspicion came from. Termasuk kepercayaan bahwa belajar baca tulis itu bisa membawa petaka. Because really, the more you know about the world, the more skeptical and bitter you became #inibukancurhatcolongan

sokola-rimba_lf-s011-13-330738_adegan_3

Sokola Rimba adalah sebuah film Indonesia berkualitas, yang tahu pesan apa yang ingin dia sampaikan dan menyampaikan pesan itu dengan penuh percaya diri. Membuat belajar tanpa harus bersikap menggurui, Sokola Rimba membuat kita mempertanyakan cara pandang yang kita miliki selama ini. Hanya karena Orang Rimba itu tinggal di dalam hutan dan gak bisa baca-tulis-hitung, bukan berarti mereka adalah orang bodoh yang tidak beradab. Pada kenyataannya, mereka justru lebih jujur dan beradab. Especially when it comes to preserving the nature, something that us the so called modern people have fail miserably to do.

 

sokola-rimba_lf-s011-13-330738_adegan_6

 

Director: Riri Riza. Writer: Riri Riza. Released on: 21 November 2013. Casts: Prisia Nasution, Nyungsang Bungo, Nengkabau, Beindah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *