An emotionally invested enthusiast of pop culture in the guise of a Copywriter. Apathetic by design. Aesthetically offensive and eloquently candid. A sentimental heathen.

I think by now it would have been clear that I am a fangirl, so it should not come as a surprise that my interest for this movie was sparked by none other than John Hurt. Iya, John Hurt, aktor yang umurnya udah 73 tahun itu. Because War Doctor bro. And yes, that link was a not-so-subtle attempt to introduce The Day of The Doctor because 23rd November is just a few days away and I can’t wait and okay I’m derailed let’s get back to Snowpiercer shall we.

snow-piercer-poster03

Setelah usaha untuk mengatasi global warming yang gagal dan menyebabkan bumi membeku, manusia-manusia yang tersisa bertahan hidup dengan menaiki a rattling ark: Snowpiercer. Di kereta yang membawa para penumpangnya mengitari bumi secara terus-menerus itu, tercipta sistem kelas di antara penumpang “Eksekutif” di bagian depan dan penumpang freeload di bagian ekor. Pojoknya pojok dan tersia-sia. Ibaratnya KRL, para penumpang ekor ini adalah mereka yang naik kereta ekonomi di atap gitu lah. 

Lelah dengan nasib mereka yang terus terjajah, para penumpang bagian ekor ini pun akhirnya nekat melancarkan rencana revolusi untuk mengambil alih kereta. Di bawah pimpinan Curtis (Chris Evans), mereka pun memulai pemberontakan mereka. Target pertama? Membebaskan Namgoong Minsoo (Song Kangho), pakar keamanan yang bisa membantu mereka membuka gerbang dan mencapai gerbong paling depan.

snow-piercer04

To say that I enjoyed this movie would be an understatement, because I adored it so much. Granted, a part of me sort of feel like I enjoyed this movie too much, but it can’t be helped given the circumstances. Kebetulan memang saya nonton film ini pas morning show hari Selasa pagi, dan karena weekdays, cuma ada sekitar 5 orang mungkin yang nonton. Sebarisan cuma saya doang dan pengalaman nontonnya pun jadi super nikmat. Untung juga sih gak ada yang duduk deket saya, kasian merekanya kalau harus denger mahasiswi satu ini squealing dan giggling dan fangirling over those movie characters kayak anak kecil lagi sugar high. Apalagi karena salah satu karakter yang di-ogle itu adalah kakek-kakek berumur 74 tahun #okayiniterdengarsalah #wrongonsomanylevel

Plotwise, film ini sebenernya melanggar ekspektasi saya yang awalnya berpikir bahwa revolusinya bakal terjadi di akhir, buat klimaks gitu. Ternyata film ini justru sepenuhnya menceritakan mengenai perjalanan revolusi mereka gerbong demi gerbong. And it was one hell of a ride. Setelah di awal ia menunjukkan tentang perlakuan tidak adil yang menimpa kaum ekor, Bong Joonho membawa kita menelusuri Snowpiercer dan semakin lama kita bisa semakin merasakan betapa njomplang dan mirisnya kehidupan kaum ekor ini bila dibandingkan dengan segala kenyamanan yang dinikmati para penumpang kelas eksekutif. Belum lagi kalau mikirin tentang punahnya kehidupan di bumi dan bahwa it’s not actually too far into the future. Terus jadi depresi deh karena kayaknya sih kalau kondisi di film ini jadi nyata, saya bakal jadi yang mati beku di bumi atau jadi kaum ekor dan mati duluan. Either way, dead #foreverskeptical #kemudiangloomy

Suka banget loh saya sama ceritanya, unusual dan tipe-tipe mindfuck favorit saya gitu. And I like how it blatantly depicted the whole “hukum rimba” idea. Mau gimanapun, yang kuat memang akan berkuasa dan memangsa yang lemah. Penguasa mutlak emang cenderung berkembang jadi tirani bro, berasa mereka bisa ngendaliin dunia soalnya. Tapi sebenernya sih cerita yang diangkat Snowpiercer ini gak “berat-berat” banget. Cuma, mau gak mau emang bikin mikir bahkan setelah keluar dari teater. About social class and discrimination, about survival of the fittest, about humanity, about sacrifices for the greater good. Mungkin film ini terlihat agak-agak black and white dalam menggambarkan kelompok tersiksa yang perlu dibela vs kelompok penguasa yang jahat. Yet after the movie ended, I found myself silently pondering about the fact that like it or not, there’s a logical reason behind all the “Know your place, Keep your place” fuss, along with the strives for order and balance. Gatau sih ya, atau mungkin ini karena kebetulan saya belakangan lagi kecebur di universe Shingeki no Kyojin dan lagi mengagumi betapa heartless serta logical-nya Ervin Smith dan Corporal Levi #kemudianderailedlagi

snow-piercer06

Soal karakter, Snowpiercer sebenarnya punya banyak banget karakter yang semuanya bisa dibilang penting. Mereka punya peran serta bagian masing-masing dari cerita, dan mereka sama-sama punya “that moment” masing-masing. Pembagian porsi ini juga bikin Snowpiercer gak terkesan terlalu crowded, dan malah jadi semakin asik karena semua orang punya cerita mereka sendiri loh. Yah oke gak semuanya bener-bener digali dalam sih, tapi gak ada yang terkesan jadi tempelan belaka. Makanya saya jadi seneng banget karena ceritanya jadi gak cuma fokus ke satu tokoh aja. Apalagi karena portrayal dari masing-masing cast juga bagus dan memorable. Favorit sih jelas Mason-nya Tilda Swinton dan Minsoo-nya Song Kangho. Ed Harris juga oke jadi Wilford yang dingin dan kalkulatif tapi entah kenapa punya charm-nya sendiri itu. Octavia Spencer sebagai Tanya scene stealer loh, sayang banget sama dia. Angkat jempol juga buat Chris Evans yang buat saya sih sukses banget jadi Curtis sampai saya baru sadar bahwa “Astaga itu Captain America?!” saat mulai nulis post ini. Atau well, saya aja yang emang gak merhatiin dia karena keasikan rooting for other characters. Kapan sih saya suka tokoh utama.

Alas, I have to admit that part of the reasons why I adore this movie so badly adalah karena karakter-karakter film ini sangat root-able dan terhitung eye-pleasing banget. Gilliam (John Hurt) yang keliatan rapuh tapi diam-diam menghanyutkan. Edgar (Jamie Bell) yang ribut dan emosian tapi adorable. Grey (Luke Pasqualino) yang sialan keren amat sih bang jadi cowok. Minsoo yang biar berantakan gitu tapi ayah sayang anak. Yona (Ah Sungko) yang strangely captivating. Tanya yang baik dan kesayangan banget. Andrew (Ewen Bremner) yang kasian tapi gimana dong serem juga at time dan entah kenapa mirip gitarisnya Fall Out Boy *oke ini salah*. Sampai bahkan Mason yang nyebelin tapi lucu dan gaya ngomongnya memorable sama Wilford yang jahat tapi entah kenapa saya agak simpatik sama dia — atau mungkin emang ada yang salah dengan selera saya sih. That, and some internal jokes kayak waktu Gilliam meng-asses damage yang diderita para penumpang like a Doctor. Atau Edgar yang kadang mirip Rory. Guru cewek over chirpy yang tak lain tak bukan adalah Alison Pill – si Maggie dari The Newsroom. Pemeran Yona yang ternyata main di God of Study jadi cewek yang sialan kamu beruntung sekali hidupnya nak diperebutkan Yoo Seungho sama Lee Hyunwoo. Dan, well, saya simply ketawa aja tiap kali denger Song Kango bilang “Saekki”. Just because.

snowpiercer

Last paragraph aside though,  Snowpiercer was still a movie that exceeded my expectation. Apalagi karena visualnya juga bagus, dengan striking difference dari satu gerbong dengan gerbong lainnya. Penampakan dunia yang membekunya juga bikin merinding. Dan yaampun saya suka banget sama adegan perkelahian antara kaum ekor melawan prajurit kelas depan, waktu dibikin slow motion dengan backsound yang eerie gitu. Suka banget aja entah kenapa. For me, it was a nice blend of drama and action, with the right amount of both angst and hope, topped with an apple to the eye visual. Worth watching.

Anyway, cuma saya doang atau emang cerita dari Maggie guru-cewek-tak-bernama itu semacam meng-imply bahwa Wilford adalah otak di balik membekunya bumi sih? Atau saya aja yang terlalu menganggap Wilford jahat kali yak HAHAHAHA.

 

snowpiercer_

 

Director: Bong Joonho. Writer: Bong Joonho & Kelly Masterson. Released on: 19 November 2013. Casts: Chris Evans, Tilda Swinton, Jamie Bell, Ed Harris, John Hurt, Song Kangho.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *