An emotionally invested enthusiast of pop culture in the guise of a Copywriter. Apathetic by design. Aesthetically offensive and eloquently candid. A sentimental heathen.

talentime poster

Film ini diawali dengan shot sebuah aula kosong yang lampunya dinyalakan satu persatu, dan kemudian berganti ke sebuah ruang kelas berisi murid-murid yang sedang ujian. We’ll see Hafiz (Mohd Syafie Naswip) yang mengerjakan ujiannya dengan cara melempar dadu (Dan kemudian gue merasa bersyukur bahwa semales-malesnya gue waktu SMA dulu, gue gak pernah resort ke lempar dadu. Itung kancing, on the other hand…) sementara Kahoe (Kahoe Howard Hon) terlihat mengerjakan ujiannya dengan serius.

Kemudian kita diberi tahu bahwa para guru-guru tengah merencakan Talentime, sebuah acara pertunjukan bakat bagi para murid. Baru setelah itu kita diperkenalkan pada Melur (Pamela Chong) dan keluarganya. Terakhir, muncul keluarga Mahesh (Mahesh Jug al Kishor) yang sedang mempersiapkan pernikahan Ganesh.

And as the story unfolds, we’ll see how the Talentime intertwined their four different lives.

talentime 2

“Sialan. Gue gak nyangka gue akan dibikin segalau ini” adalah apa yang muncul di otak gue setelah gue selesai nonton Talentime. Gimana enggak, gue sebenernya kan nonton film ini karena mata kuliah Kajian Film. Dan awalnya gue gak punya ekspektasi apa-apa, bahkan bisa dibilang agak males karena intronya bikin film ini keliatan kayak melodrama menye.

Tapi sekarang, gue berterima kasih sama dosen gue karena ngebikin gue nonton film ini. Because it was unexpectedly beautiful and though it’s not actually my cup of tea, I still enjoyed it a lot and even shed some tears over it.

Mengingat Mahesh dan Melur adalah tokoh utama dari Talentime, film ini memang jadi lebih berfokus pada mereka berdua dan sejujurnya, berhasil menggambarkan kehidupan mereka dengan baik. Weirdly, though, I don’t really sympathize with them. Gatau ya, tapi entah kenapa saya lebih menikmati adegan yang melibatkan keluarga mereka daripada mereka berduanya. Adegan-adegan yang isinya mereka pacaran entah kenapa terasa terlalu didramatisir dan jatohnya terlalu….manis.

Yang bikin film ini ngena buat saya justru Hafiz dan ibunya, sama rivalry antara Hafiz sama Kahoe. Terutama Hafiz, karena dia scene stealer banget dengan aktingnya yang ngena dan suaranya yang enak banget di kuping itu. Biarpun frankly, rasa-rasanya dia adalah karakter yang sedikit too good to be true ya… Sayangnya sih, Talentime kurang memberikan spot untuk Kahoe. Satu-satunya adegan yang memberi kita sedikit gambaran atas keadaan Kahoe adalah adegan dia sama ayahnya di mobil. Padahal menurut saya akan jauh lebih bagus kalau dia juga disorot dan kita jadi tau alasan kenapa dia kelihatan benci dan sangat merasa terancam oleh keberadaan Hafiz. That, and because he’s quite nice to look at.

talentime 5

Satu lagi nilai plus dari Talentime adalah bahwa dia cukup berani untuk menyentuh isu-isu yang bisa dibilang sensitif. Hubungan beda agama antara Melur dan Mahesh misalnya, serta prejudice yang dialami oleh Mei Ling ataupun yang dimiliki oleh ibunya Mahesh. Secara subtle, film ini menunjukkan bahwa prejudice atas perbedaan itu selalu ada, namun di saat yang sama juga dia berusaha mengingatkan kita bahwa prejudice itu biasanya gak beralasan dan, to be very very honest, gak dibutuhkan. And it was refreshing to see bagaimana keluarga Menur, yang Islam, justru sangat terbuka dan menerima Mahesh apa adanya sementara justru keluarga Mahesh (well, ibunya sih) yang sangat diskriminatif. It’s a refreshing change dari apa yang sehari-hari kita liat di sini, di mana para ekstremis Islam memenuhi media dengan tingkah laku diskriminatif dan anarkis mereka.

Makanya, saya merasa seneng sekaligus miris saat melihat betapa beraninya film ini. I mean, Malaysia juga negara multi-etnis, multi-kultural, dan multi-agama biarpun agama resminya Islam. Dan di negara yang sering kita jadiin musuh itu, isu-isu sensitif yang muncul karena keragaman tersebut bisa dibahas dengan cukup lugas di sebuah film. Sementara di Indonesia, film macam “?” atau “Cin(T)a” malah diprotes. Miris banget tau. Mana toleransi di negara yang kata menteri kita adalah negara paling toleran ini?

All in all, Talentime was worth watching. Emang sih ada bagian-bagian yang terasa sangat menye dan bikin mikir “Apa sih ini astaga”. Tapi sebagai kompensasi, Talentime juga punya bagian-bagian lain yang benar-benar menyentuh. Talentime juga terasa sangat… ‘normal’ dan it’s a huge plus because this is a story about some normal people with their normal problems that could happen to basically anyone. Dan pemilihan lagunya…ISTG, bagus banget . Good songs with appropriate lyrics at the right times and I’m basically hooked with all of Hafiz’s songs. Oh, dan suka juga sama adegan opening dan endingnya :”)

talentime 6

Director: Yasmin Ahmad. Writer: Yasmin Ahmad. Released on: 11 Desember 2009 (JIFF). Casts: Mahesh Jug al Kishor, Pamela Chong, Kahoe Howard Hon, Mohd Syafie Naswip.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *